Kelebihan Berobat diMalaysia Dibandingkan Diindonesia

Posted on

Rumah sakit tidak saja tempat menyembuhkan dan mencairkan orang sakit, tetapi pun harus menjadi lokasi aman. Ironisnya, sejumlah RS di sejumlah wilayah di Indonesia diterpa pelbagai bencana. Mulai dari kebakaran dampak korslet listrik, dihanguskan oleh penghuninya sendiri, sampai ada yang kebanjiran sehingga semua penghuninya mesti diungsikan. Dua RS yang terbakar dampak hubungan arus pendek listrik ialah Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya, Wonokromo, pada Kamis (1/12/2016) dan Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon, pada Sabtu (3/12/2016). Kedua insiden tersebut membuat puluhan pasien beserta family yang menantikan panik dan langsung memutuskan terbit ruangan sesudah mendengar alarm kebakaran. Mereka ditolong para petugas RS supaya bisa dievakuasi ke lokasi yang aman sedangkan petugas kebakaran berjuang memadamkan kobaran api. Kasus di Badan Layanan Usaha Daerah Rumah Sakit Umum (BLUD-RSU) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, pada Minggu (6/11/2016) lebih mengherankan sebab yang menjadi penyebab kebakaran ialah penghuninya sendiri.

Sebagaimana dikabarkan Antara, si pelaku mempunyai rekam jejak kegemaran membakar benda-benda di sekitarnya. Sementara itu, sejumlah 80 pasien RS MM Dunda Limboto, dialihkan ke penampungan sedangkan di Gedung Kasmat Lahay sebab ruangan perawatan tergenang banjir di Kabupaten Gorontalo, Rabu (26/10/2016) dini hari. Hujan deras yang melanda Kabupaten Gorontalo semenjak Selasa (25/10) siang sampai sore hari mengakibatkan empat Kecamatan di wilayah itu terendam banjir sampai lutut orang dewasa. RS MM Duna Limboto yang tak di bina di lokasi bebas banjir juga ikut tergenang. Fenomena di atas menunjukkan masih belum terpenuhinya standar ketenteraman dan pelayanan kesehatan tidak sedikit rumah sakit di Indonesia. Kondisi ini sempat disebut-sebut oleh sang Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moeloek. Ia menyesalkan laporan dari Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman yang menuliskan ribuan masyarakat Riau masing-masing tahu Berobat ke Malaysia l

Menurutnya, terdapat kisaran dana sebesar Rp 500 miliar yang penduduk Riau menguras uang untuk kebutuhan berobat di negeri jiran daripada di daerahnya sendiri. Tingginya minat warga guna berobat ke luar negeri diakibatkan sejumlah alasan. Pertama ialah faktor geografis yang terbilang dekat dengan negeri jiran tersebut. Masyarakat Riau lebih memilih ke Malaysia dan Singapura dibanding mendapatkan kemudahan kesehatan di lokasi tinggal sakit besar di Pulau Jawa sebab terpaut jarak yang lumayan jauh Rumah sakit di negeri jiran tersebut juga gencar mengerjakan promosi di Riau serta dalil pelayanan. Mayoritas masyarakat Riau menilai pelayanan lokasi tinggal sakit di Malaysia maupun Singapura lebih baik dibanding di Riau. Nila Moeloek mendorong setiap lokasi tinggal sakit yang terdapat di Provinsi Riau untuk menambah pelayanan. Menurutnya, dokter-dokter yang terdapat di Indonesia lumayan terampil dan berlomba dengan dokter yang terdapat di luar negeri. Namun masyarakat tetap memilih ke luar negeri sebab paradigma yang tercipta ialah di luar negeri tidak jarang kali lebih baik dibanding di Indonesia sendiri. Sudah bukan rahasia pula andai orang-orang ruang belajar atas di Indonesia lebih memilih guna berobat ke Singapura yang dipercayai mempunyai standar pelayanan lokasi tinggal sakit yang lebih memadai. Peralatannya lebih canggih, dokternya juga lebih mumpuni. Sementara itu, orang-orang dari ruang belajar menengah ke bawah melulu bisa bercita-cita bahwa pelayanan yang sama juga dapat didapatkan di RS-RS terdekat. Berobat ke Singapura ialah sesuatu yang dirasa mustahil, terutama dari segi finansial. Opini itu tak datang dari ruang hampa. Testimoni dari masyarakat Riau dan distrik Sumatera tak melulu menunjukkan pelayanan kesehatan di negeri jiran lebih baik. Di sisi lain, data dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menunjukkan melulu sekitar 50 persen dari selama 215 lokasi tinggal sakit di Sumatera Utara yang mempunyai alat kesehatan berteknologi modern dan mengisi standar.

Perkara standar kelayakan RS di Indonesia untuk ketua PERSI Sumut, Azwan Haki Lubis, tak hanya berkaitan dengan mengurangi angka warga Indonesia ke luar negeri. “Namun pun untuk mengurangi angka kematian,” ujarnya. Ia menyoroti akses layanan kesehatan khususnya di RS tipe C dan D yang melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pelayanan lokasi tinggal sakit dapat tampil lebih bagus sebab program JKN ialah peluang besar guna mendapatkan pasien lebih banyak. Sayang, realita yang terjadi di lapangan mengindikasikan para pasien penerima JKN lari ke lokasi tinggal sakit tipe A. Ini dengan kata lain pengadaan perangkat kesehatan modern di RS tipe C dan D lebih sedikit. Kebutuhan masyarakat belum terpenuhi dengan baik dan merata. Kualitas lokasi tinggal sakit ialah salah satu unsur yang merepresentasikan kualitas pelayanan kesehatan secara umum. Ada tidak sedikit riset yang sudah mengukur komparasi kualitas pelayanan kesehatan antar negara. Salah satu di antaranya ialah Bloomberg, yang memulai risetnya pada tahun 2013. Riset Bloomberg mengevaluasi perbandingan ongkos perawatan kesehatan dan Produk Domestik Bruto per kapita, umur harapan hidup, dan perbaikan menurut kepandaian pemerintah di tahun sebelumnya.

Hasil risetnya pada 2014 mengaku bahwa Singapura sedang di posisi kesatu negara dengan pelayanan kesehatan sangat efisien. Negara ini mengungguli superpower laksana Amerika Serikat (44) pun negara Asia berekonomi powerful lain laksana Hongkong (2) atau Jepang (4). Publikasi Ilmiah di Situsweb RS pun Rendah Cybermetrics Lab ialah lembaga riset yang sedang di bawah Consejo Superior de Investigaciones Cientificas, badan penelitian publik terbesar di Spanyol. Mereka menciptakan peringkat kualitas website lokasi tinggal sakit dunia, Hospital Webometrics, yang tidak jarang kali diperbaharui dari masa-masa ke waktu. Berdasarkan keterangan dari laman sah Cybermetrics Lab, Hospital Webometrics ditujukan guna mengukur publikasi ilmiah di website lokasi tinggal sakit yang ada, bukan menguji kualitas institusinya. Mereka menyokong akses yang luas terhadap tulisan ilmiah. Mereka hendak merefleksikan kegiatan para profesor dan peneliti di website-website lokasi tinggal sakit semua dunia. Di samping soal kualitas pelayanan, menurut keterangan dari data Hospital Webometrics per Rabu 7 Desember 2016, peringkat publikasi ilmiah di lokasi tinggal sakit di Indonesia kalah jauh dibanding lokasi tinggal sakit-rumah sakit beda di level Asia—apalagi dunia. Rumah sakit terbaik Indonesia diwakilkan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga Group yang sedang di peringkat 774 level Asia. Sementara di level dunia, Mitra Keluarga Group melorot jauh di posisi 3.858. Peringkat lokasi tinggal sakit Indonesia di bawahnya antara Siloam Hospitals Group (4.005), RS Dr Oen Surakarta (4.069), Bali International Medical Centre Hospital (4.486), dan RS Bunda Jakarta (5.471). Bandingkan dengan publikasi ilmiah lokasi tinggal sakit terbaik di Singapura, Singapore National University Hospital, yang bercokol di posisi 45 Asia dan 299 dunia. Empat lokasi tinggal sakit beda ada di posisi 1.000 lokasi tinggal sakit terbaik di dunia: Singhealth (527), Singapore General Hospital (657), Tan Tock Seng Hospital (784), dan Kk Women’s & Children’s Hospital (867). Masih merujuk data dari Hospital Webometrics per 5 Desember 2016, Malaysia pun mencatat hasil lebih baik ketimbang Indonesia. University Malaya Medical Centre, misalnya, sedang di posisi 877 dunia. Empat lokasi tinggal sakit terbaik lainnya sedang di posisi 2.500 besar dunia. Sejumlah lokasi tinggal sakit di Cina dan Taiwan merebut posisi lima besar di Asia. Buddhist Tzu Chi General Hospital dan Taipei Veterans General Hospital di Taiwan menghuni dua posisi teratas serta posisi 13 dan 16 dunia. Di posisi ketiga terdapat Xinqiao Hospital Third Military Medical University dari Cina, National Taiwan University Hospital di posisi keempat dan Jijin University Bethune Hospital dari Cina di posisi kelima.

 

Gravatar Image
Traveler